cerita yang tak pernah ada niat dibukukan namun selalu hadir dalam ingatan

Hampir sewindu,
10 April 2013
10 April 2020



Kisah yang tak pernah “sudi” dijalani. Siapapun tokohnya, pasti enggan menerima peran ini. Tapi Tuhan amat baik, dia percayakan semuanya pada diri ini. Tuhan tau, hamba-Nya yang lemah ini patut ditempah dengan nasib semacam ini. Entah karena apa, yang jelas aku yakin ini adalah salah satu dari bentuk kecintaannya.

Siapa yang menyukai perpisahan? Aku rasa tak ada seorangpun yang menyukainya sekalipun katanya “perpisahan yang baik”. Sebaik-baiknya perpisahan, perpisahan tetaplah perpisahan. Apalagi jika perpisahannya tak hanya soal jarak, tapi juga wujud. Berpisah pada seorang yang wujudnya tak lagi ada, raganya hangus dilalap bumi. Maka saat jiwa merindu, kemana arahnya akan ditemui? Bagaimana lagi caranya memeluk?


Sungguh, ini adalah perih yang amat perih. Sakit yang amat sakit. Namun mau tak mau, suka tak suka, semua mesti dijalani, pun mau bagaimanapun kita semua akan menyusul pergi.

Aku tak pernah terbayang akan nasib yang seperti ini, takdir yang tak pernah bisa bisanya diterka, pun jalan hidup yang sama sekali tak bisa direkayasa. Malam sebelumnya tak pernah aku bermimpi akan terjadi suatu yang hebat pada hari itu, semua berjalan layaknya hari-hari manusia umumnya. Bedanya, 2 hari sebelum ini memang ada yang tak biasa. Mama kembali masuk rumah sakit, tapi bagi kami ini sudah seperti “kebiasaan” dimana mungkin hampir setengah rumah sakit di Kota Bogor ini sudah kami tapaki, sudah mama kunjungi. Beliau sudah menjadi salah satu “pelanggan” dibeberapa rumah sakit disini. Tapi, keluar masuk RS jauh lebih tidak apa-apa daripada harus tidak sama sekali, akibat beliau pergi.


Sebelumnya, mama sudah merasakan sakitnya kembali tapi mama bersikeras untuk tetap dirumah dan tak mau ke RS. Ayah mengangguk menuruti dan kami, (aku yang tak tahu apa-apa bersama adikku hanya ikut mencoba memahami). Akhirnya, sekitar 8 april 2013 lalu, mungkin sakit mama tak lagi tertahankan dan kami kembali ”check in” ke RS. Ini bukan untuk tamasya, tapi berikhtiar untuk menyembuhkan mama. Hari itu, seingatku aku ikut mendampingi mama tepat hari senin, aku bolos sekolah demi ikut ayah mengantar mama. Dan ternyata, bolos yang tak pernah aku sesali adalah itu, justru aku menyesal kenapa hanya 1 hari aku bolos kenapa tak hari-hari selanjutnya pun begitu. Kala itu, jadi senin terakhir aku bersamanya. Tak sekolah tak apa, asal aku bisa sama mama.


 Selasanya, kata ayah mama mulai membaik sapanya via telepon. Aku bersyukur, itu tandanya mama akan cepat pulang beberapa waktu yang akan datang. Mungkin besok, pikirku. Kemudian, selasaku berjalan normal, aku pergi sekolah dan pulang ke rumah. Kalau mama nginap di RS, aku ditemani Umi dirumah kadang sama Abah (umi&abah, yang momong aku dan adikku dari kami lahir, sudah seperti nenek dan kakek sendiri). Kemudian, tak ada mimpi buruk apapun yang terjadi, tak tanda apapun yang datang. Semalam berlalu, tiba kini hari Rabu.

Rabu pagi, 10 april 2013. Hari yang tak pernah ku bayangkan akan jadi kilas balik kehidupan ku dan kami. Seperti biasa, aku pergi sekolah dengan hati yang sedikit senang karna dengar kabar mama semalam sudah membaik dan semoga hari ini bisa pulang. Tak tau kenapa, setengah hari berlalu perasaanku jadi tak nyaman aku pikir mungkin karna perutku perih, maag ku kumat karena tidak makan dengan betul beberapa hari ini. Dan dihari yang sama, ternyata mama salah satu sahabatku mengalami kemalangan, beliau jatuh dari kendaraan dan teman-teman berniat menjenguk beliau tapi tak tau kenapa aku menolak ajakan itu, padahal aku tau ini adalah ajakan baik, namun satu sahabatku yang lain bilang taka pa kamu pulang aja, mukamu pucat dan sana beristirahatlah. Kemudian, aku menurutinya untuk cepat pulang. Sesampai dirumah, aku membuka pintu dan bergegas makan. Setelah makan, aku ketiduran.


Sampai sore, tiba-tiba umi mengetuk pintu dengan paniknya. Aku heran dan sedikit ketakutan. Beliau mencoba tenang dan mengalihkan semuanya, umi menggendong adikku (usianya kala itu 4 tahun). Di susul abah, abah dengan terburu-buru masuk kedalam menyusul. Aku yang baru bangun tidur tak tau mesti apa, masih pusing dan tak karuan. Kemudian, umi menanyakan keadaan mama pada ku dan menyuruhku untuk menelpon ayah. Aku tak berpikir apa-apa, langsung ku hidupkan hp dan menghubungi ayah. Umi dan abah terdiam, adikku asik memainkan mainannya sendiri. Ku lihat wajah umi pilu, air matanya keluar. Sekali lagi, aku masih tak mengerti, dalam benakku ada apa ini? Kenapa semuanya terasa mencekam seketika. Seraya handphone berdering menunggu jawaban ayah, aku berusaha berdoa dalam hati semoga tak ada kabar buruk yang datang pada telinga.


Ayah menjawab telponku, semua seperti biasa, namun bedanya suara ayah kala itu lebih serak. Kemudian, aku bertanya pada intinya tak pakai lama “yah, mama sehatkan?” kalimat itu yang tak akan pernah ku lupakan. Lantas, tangis ayahku pecah, aku tau beliau adalah lelaki yang hebat dan kuat, tapi setelah sekian belas tahun aku hidup dengannya baru kali itu aku dengar ayah menangis meski tak langsung. Jeritannya menular, sembari menegarkan beliau menjawab “mama sudah pergi kak, mama sudah gak sakit lagi, kakak yang kuat ya! Jangan nangis!” beliau tetap menegarkan, beliau tetap menguatkan, beliau menghentikan tangisannya dan mencoba menenangkan aku meski via telepon. Padahal aku tau, yang seharusnya dikuatkan lebih banyak adalah beliau. Kemudian, tak sadar aku benar-benar menangis sejadi-jadinya. Tak tau apa yang harus dilakukan setelah ini, tak mengerti harus apa selanjutnya. Umi dan abah menenangkanku, taka pa setelah jeritan itu aku tertidur. Seakan Tuhan bilang, beristirahatlah sejenak.

Hari mulai malam, om ku datang menjemput kami ke RS dan bilang “ayo siap-siap kak, beresi bajunya, sekalian baju adek dan ayah”. “kita mau kemana?” responku dengan polosnya, karena sama sekali aku tak mengerti ini harus bagaimana? Kemudian, beliau menjawab dengan nada lirih sembari mengelus kepalaku “kita antar mama pulang kampung, kakak, ayah sama adek yang antar yaa”. Aku menuruti, kami bergegas ke RS.


Sesampainya disana, yang pertama ku cari yang pasti adalah Ayah, ayah menyambut pelukku, beliau kembali menangis seraya memelukku erat. Aku rasa itu jadi bagian yang tak pernah bisa ku lupakan. Kemudian umi, umi menyalam ayah, tangisannya kembali pecah. Aku yang menyaksikan semua ini tak tau harus merespon apa. Aku adalah anak 13 tahun yang tak tau apa-apa.

Semua orang menatapku, menatap adikku. Seakan kami adalah anak-anak yang paling malang malam itu. Aku tak suka suasana begini. Ini terlalu gelap dan sendu. Tak lama, ayah membawa kami ke ruang jenazah, tempat mama dimandikan dan didandani. Mamaku adalah wanita paling cantik sedunia, juga sampai disurga. Kami mengecupnya untuk yang terakhir kali. Beliau tersenyum manis, bak bidadari yang sedang tidur menunggu pagi. Katanya, kakak jangan nangis ya saat cium mama, jangan ada lagi air mata. Biar mama senang pulang ke surganya. Aku si anak kecil tak tau apa-apa menuruti, ku tahan tangisku, ku tahan air mataku. Setelahnya, semua meledak. Tak lagi bisa ku atur. 


Tak pernah sampai pada pikirku, ternyata malam itu menjadi malam paling getir yang pernah ada dalam hidupku. Malam yang selalu terbayang dalam benakku, mencoba lupa namun tak bisa. Bukan tak ikhlas pada takdir-Nya atau bukan karena tak bisa move on tapi memang tak bisa dilupakan sekuat apapun ingin dilupakan. Kalaupun ada pilihan lupa, maka aku yang akan lebih dulu memilih untuk melupa.

Ma, its been 7 years after you are gone
Hampir sewindu, Tak bisa lagi disebut rindunya berapa, bagaimana, sebanyak apa.
Ma, waktu begitu cepat berlalu, tapi mama, masih ada disini. 



 Maka, kepada siapapun yang membaca tulisan ini, saya hanya ingin berbagi makna dan sedikit berpesan, selagi keduanya masih ada silahkan berbakti sekuat-kuatnya, jangan menanti sampai sebelah atau keduanya “patah”, sebab akan sangat payah bila sudah beda kondisi. Ingin memeluk saja, nanti bingung bagaimana. Sekarang, saat masih ada dan tegap beliau bediri, silahkan peluk dan cintai sepenuhnya.

 JANGAN TUNGGU MERINDU SAAT SEMUANYA TAK LAGI BERWUJUD

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dan Lagi, Dengan Rasa Yang Tak Pernah Bisa Hilang~

Sepasang Kekasih yang Mencinta sampai Maut yang menjadi Sekatnya